Pertanian saat ini ternyata lebih hanya sekedar mencoba bertahan hidup. Tidak ada terobosan yang menjanjikan dari pemerintah untuk membela hak-hak mereka yang semakin dihimpit oleh krisis ekonomi yang membelit. Pemerintah banyak mengabaikannya atau bahkan memberi tekanan lebih besar lagi karena harga pupuk dinaikkan. Dengan melambungnya pupuk maka biaya perawatan semakin mahal tidak sebanding dengan harga beli beras dari konsumen yang malah cenderung turun.
Dengan beredarnya beras impor yang lebih murah, ini membuat petani semakin menderita dan asing di tanah sendiri. Kebijaksanaan untuk menstabilkan harga dengan mendatangkan beras-beras dari luar tentu bukanlah solusi baik untuk memperhatikan masyarakatnya sendiri. Bila kemudian terjadi arus migrasi dari desa ke kota maka jangan salahkan mereka karena pertanian tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Yang tidak bisa dimengerti mengapa kota terus membangun fasilitas untuk pusat perbelanjaan sementara daya beli masyarakat semakin menurun. Para kontraktor, pengusaha saat ini cenderung bermain judi untuk membangun pusat perbelanjaan(mal, pusat grosir, retail, pusat elektronik ). Jaringan foodcourt pun menggurita di setiap mal. Namun yang memprihatinkan rasa bangga untuk menggunakan produk pertanian sendiri semakin menipis. Beras Vietnam, Thailand, China mendominasi rak-rak pusat perbelanjaan.
Ketika Demo semakin marak hari-hari ini, itu adalah akumulasi dari kekesalan, kekecewaan, kecemasan yang terpendam begitu lama. Hampir semua pimpinan pemerintahan di era siapa saja mengabaikan para petani. Pada setiap era ada saja kebijaksanaan yang selalu memojokkan mereka sehingga mereka yang seharusnya menjadi roda penggerak ekonomi harus menjadi korban dari kapitalisme perdagangan yang mencekik kehidupan pertanian. Lingkaran setan ini terus bergulir bahkan pada pemerintahan hasil kedaulatan rakyat seperti saat ini.
Menurut pooling dari LSI popularitas pemerintahan sekarang menurun tajam, ini disebabkan oleh lambannya pemerintahan menangani kasus-kasus yang melibatkan rakyat. Kenyataannya ekonomi tetap kembang kempis dan lonjakan harga saat ini makin memperparah kemiskinan, pengangguran dan memantikkan api anarkis pada setiap demo-demo atau kerumunan masa. Luapan emosikah?
Sejatinya jangan lupakan petani karena dari merekalah gizi kita tetap terjaga. Jangan abaikan lagi karena dengan semakin banyaknya lahan tidur karena ditinggal petani kemudian berdiri megah mal-mal, ruko-ruko, pusat perdagangan siapa yang menyuplai makanan? Apakah semua orang harus menjadi pedagang(penjual)Lalu siapa pembelinya kalau ternyata pengangguran negeri ini melahirkan demonstran-demonstran anarkis yang siap memecahkan kaca dan merusak fasilitas umum.
Joko Dwiatmoko
Cengkareng, Jakarta
Kamis, 05 Maret 2009
Selasa, 03 Maret 2009
Politik hwrakadah
Perkutut simbah hari ini semakin ngawur, suara nya semakin tidak harmonis tapi tambah membingungkan, kadang suaranya melengking, kadang mendesis dan berulangkali lepas pitc controlnya.ini mungkin melihat budaya latah masyarakat menjelang pemilu. Simbah bingung siapa yang mau mencoblos hanya melihat tampang-tampang yang tumpah ruah di jalanan. Bendera dan profil genit mereka sungguh membuat simbah tidak mengerti. Apakah rakyat diarahkan hanya melihat foto dan slogan-slogan yang terkesan basi. Simbah memang hanya bolodupak, tidak berpengaruh apa-apa dalam kondisi politik sekarang ono. Sampai saat inipun kebingungan masih terus melanda jiwa raga yang semakin rapuh dan pikun ini, bukan semata-mata karena kelaparan dan ketidak tersediaan nasi.Bukan ,Nasi masih melimpah, uang masih sisa dan baju masih penuh di lemari, tapi foto-foto yang terpajang di setiap gang, setiap pinggir jalan, pohon-pohon peneduh dari matahari yang semakin terik dan menyengat. membuat jengah. Mosok memilih wakil rakyat hanya berdasarkan foto. Simbah pun mampu, jika punya uang sejuta membuat poster dan profil wakil rakyat. Caleg dari sebuah komunitas orang yang kebingungan melihat negeri ini yang semakin amburadul dan semakin tidak bisa ditertibkan. Peramal berbondong-bondong memberi sinyal negatif tentang negeri yang siapapun pemimpinnya susah untuk mencap sebagai negeri yang normal. Kita sekarang memang orang abnormal. Negeri kita sedang dipimpin oleh orang-orang gila yang penuh nafsu berkuasa dan menimbun uang. Taruhlah mereka bergelar haji, profesor, Doktor saat terjebak dalam lingkaran kekuasaan mereka tetaplah tikus yang mengerat dan menggerogoti kekayaan negara. Saya dan sampeyan-sampeyan sedang dininabobokan dengan harta yang secara cepat terpegang asal berani mengangkangi hukum dan tidak tanggung-tanggung.Kalau mau korupsi tidak usah tanggung-tanggung, kalau mau berbuat maksiat tidak boleh setengah-setengah, kalau mau suci segera pergi dari dunia sebab kesucian memang berharga mahal dan susah dicari saat ini. sekian dulu dari simbah semoga kapan-kapan simbah bisa menulis lagi dalam debat yang lebih seru dan tambah membingungkan.Nuwun
Langganan:
Postingan (Atom)